Catatan Perjalanan ke Sekumpul, Martapura, Kalimantan Selatan

 

Saya harus menulis ini. Sungguh. Harus banget.

Tahukah kalian? Di Indonesia, ada lho yang rasanya seperti “Makkah”. Mau tahu kapan, di mana dan kenapa?

Yup. Setiap tanggal 5 Rajab, di Sekumpul, Martapura, sekitar 35 km dari kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, jutaan orang berkumpul di satu titik. Saking penuhnya manusia, bahkan sejak sekitar jam 5 sore, akses jalan biasa menuju ke kota Banjarbaru harus ditutup. Padahal jarak dari Liang Anggang, Banjarbaru, ke Sekumpul itu hanya sekitar 20 km.

Yang bikin merinding, sepanjang perjalanan dari Banjarmasin-Banjarbaru-Sekumpul, berjejer begitu banyak posko singgah yang menyediakan makanan dan minuman gratis dan itu PP. Serius, kalau niat “ngumpulin” makanan, mobil bisa penuh, guys! Rasanya seperti air zam-zam yang terus diminum, tapi tak pernah habis. MasyaAllah, benar-benar berkah.

Saya coba ingat-ingat ya, makanan yang kulihat di posko-posko tahun ini :
sop biasa, sop Banjar, soto Banjar, bakso, sate, rawon, nasi goreng, mi habang, gado-gado, fried chicken, masak kecap, balado, kari, aneka kue basah, gorengan, sayur-sayuran khas Banjar, ikan goreng dan panggang, makanan prasmanan, berbagai minuman dan masih banyak lagi sampai saya lupa satu per satu.

Belum lagi snack, roti, kue kering, buah-buahan, jus kotak, teh botol dan air mineral yang dibagikan di pinggir jalan.
Siapa saja boleh mengambil. Mau ambil berapa pun. Ya Allah… merinding.

Ada pula yang menyumbang puluhan sapi dan kambing untuk dibagikan.
Katanya, di Makkah tidak ada orang kelaparan, kan? Jadi, lebay nggak kalau saya bilang pengajian 5 Rajab Abah Guru Sekumpul itu mirip musim haji di Makkah?

Oh ya, guys, ada juga SPBU yang donasi PERTAMAX, PERTALITE (bensin) lho, masyaAllah sekali bukan? insya Allah berkah itu.

Tak ketinggalan ada relawan dari terapis pijat dan ofcourse tenaga kesehatan yang dengan sukarela memeriksa kondisi para jamaah. 

Rasanya seperti… semua orang kala itu berlomba-lomba menyedekahkan apa pun yang mereka bisa.

Tabarakallah. Barakallahu lahum jami’an.

Saya yang datang ke sana untuk pertama kalinya benar-benar merinding dan takjub. Bahkan setelah wafatnya beliau, Guru Sekumpul tetap menghadirkan berkah bagi begitu banyak orang.

Coba kalian renungkan, amalan apa yang beliau kerjakan semasa hidup sehingga beliau begitu diingat orang-orang dan membawa keberkahan setiap tgl 5 rajab yang kebetulan bertepatan dengan hari kematian beliau.

Buat yang mau julid, nggak apa-apa kok. Itu hak setiap orang untuk berpendapat. Termasuk saya juga, hehe.

Menurut saya, bahkan sebait shalawat yang diucapkan oleh pemuda slenge’an yang mungkin tobat sesaat pun, insyaAllah membawa berkah bagi dirinya sendiri. Para pemuda yang menjadi relawan, insyaAllah berpahala. Apalagi para donator, luar biasa pahalanya dan saya meminta kepadaNya, sayalah donator itu, tahun depan. Aamiin.

Jangan pernah meremehkan kebaikan orang lain, walau sekecil biji dzarrah. Jangan sombong, guys, karena kita tak pernah tahu bagaimana kedudukan kita di hadapan Allah. Jangan pula merasa paling berilmu lalu mudah menunjuk dan menyesatkan amal orang lain.

Selepas acara, dalam hati saya berdoa untuk almarhum KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani
Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.
Saya juga berdoa agar seluruh donatur dilipatgandakan rezekinya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Untuk siapapun yang sudah memfitnah beliau atau yang termakan fitnah tersebut, saya doakan kalian menjadi pribadi yang dewasa, matang dan tidak emosional dalam bertindak dan berkata.

Sebagai catatan terakhir, saya tidak menganggap acara kemaren itu sebagai haul dan saya percaya beliau semasa hidup juga tidak minta di-haul-i. Saya datang ke sana murni ingin menghadiri pengajian, majelis shalawat dan shalat berjama’ah. Saya bukan ekstrimis dalam beragama, tidak ghuluw (berlebihan) terhadap ‘ulama, tetapi juga tidak menyesatkan acara mereka.

Adapun hiasan di kuburan beliau, saya berlepas diri dari sikap ghuluw sebagian jama’ah beliau.

Sekian pengalaman pertama saya menghadiri acara Sekumpul.
Dan insyaAllah, bukan yang terakhir.

Himbauan : Mari bijak dalam berkomentar. 

Comments

Popular posts from this blog